Siang di Sebuah Pengadilan Negeri

Siang itu (19/des/2012) seperti biasa saya berada di site proyek sipil (yang kebetulan kontraktornya kakak saya) di Pengadilan Negeri Martapura Kalsel.

Di secarik tumpukan kertas folio yang bertitle: Foto Dokumentasi, saya dengan gaya sedikit serius, asyik menempel foto foto dokumentasi proyek yang telah selesai saya kerjakan. Dalam pikiran saya selalu tertanam sugesti: tanpa foto bukti kegiatan, tidak akan ada pencairan. Apalagi di akhir tahun seperti ini, telat menyerahkan berkas 1-2 hari saja, bisa berakibat ditundanya pencairan uang sampai dengan tahun depan. #Buset Dah!

Jadi harap maklumi keseriusan saya ^^v.

Ditengah tengah keseriusan saya, munculah 2 sosok kakak beradik, sebut saja Aldy (5 tahun) dan Ridho (3 tahun). Yang entah darimana, tiba tiba saja sudah berada tepat di depan meja saya.

Tanpa basa basi, Aldy langsung bertanya, “Om, ini apa namanya?”

Dengan sok ramah dan akrab saya jawab pertanyaan Aldy dengan lembut, “Itu kalkulator, buat berhitung. Aldy bisa berhitung? Satu tambah satu berapa hayoo?”. Tanpa basa basi sayapun juga langsung nodong Aldy dengan pertanyaan-pertanyaan hehehe.

Dan sudah bisa ditebak, kamipun akhirnya terlibat baku tembak tanya jawab #Lol

Bosan dengan tanya jawab, saya mulai menyelipkan motivasi-motivasi ala Mario Teguh. “Aldy nanti belajar yang pinter, orang pinter enak, mau beli apa aja bisa, mau beli mainan apa saja gampang”, kata saya kepada Aldy.

Aldy dengan wajah polosnya bertanya,”Bisa beli mainan apa saja om?”

Dengan serius saya jawab,”Ya terserah Aldy sukanya apa, mau beli pesawat-pesawatan, atau helikopter pasti bisa!”

Dan Aldy pun langsung melongo. Sepertinya motivasi saya “sedikit” tertanam di benak Aldy.

“Ini Adeknya namanya siapa? wih pinter banget, adek lagi minum apa nih?”, tanya saya sambil menunjuk botol dot bayi yang menempel erat di mulut Ridho.

“Itu teh aja om, namanya Ridho”, kata Aldy singkat.

Sudah hampir 15 menit kami bercakap cakap, selama itu pula rasa penasaran saya mencari cari, siapa sih orang tua kedua anak kecil ini? Kok mereka bisa ada di sini? Lagi ngapain? Koq orang tuanya gak nyari mereka?

Tiba tiba Aldy berteriak, “Itu mobil Abahku!”. Sambil melongo sayapun melihat ke arah yang di tunjuk Aldy.

“Itu mobil Abahku! Abahku sidang!”, sambil kabur mengejar mobil tahanan, Aldy dan Ridho tanpa permisi sudah menghilang dari hadapan saya.

Ya, itu mobil tahanan, yang biasa dipakai untuk menjemput tahanan dari lembaga pemasyarakatan menuju pengadilan. Rupanya Aldy dan Ridho adalah anak dari seseorang yang kebetulan di sidang hari ini di Pengadilan Negeri Martapura. Lambat laun hatikupun jadi miris….

Palu Hakim

Saya jadi teringat omongannya teh susan, dia bilang, anakmu itu gak peduli bapaknya kaya atau miskin, atau kasus ekstrim, ulama atau penjahat, yang dia peduli cuman 1 hal, Apakah bapaknya ada bersama dia atau enggak. Kebersamaan itu penting, hidup gak selalu nikmat, ada saatnya kita berada di puncak gunung, ada saatnya kita berada di jurang terdalam. Tapi anakmu tetap gak peduli, yang dia pedulikan adalah ada tidaknya sosok Bapak/Ayah dalam kehidupannya sehari hari.

Bagi Aldy dan Ridho, mereka bahagia bisa bertemu sosok Abah/Ayah mereka hari itu. Kebahagian memang hanya bisa diukur dengan hati.

2 Comments

Berikan Komentar Anda ^^v